Tahap pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013

Tahap pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013 meliputi:
KBM Gema Nurani
a. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
1) mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan.
2) mendiskusikan kompetensi yang sudah dipelajari dan dikembangkan sebelumnya berkaitan dengan kompetensi yang akan dipelajari dan dikembangkan;
3) menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari; dan
4) menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan yang akan dilakukan.
5) menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan digunakan.
b. Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan pendekatan saintifik yang disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan peserta didik. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan proses mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Dalam setiap kegiatan guru harus memperhatikan perkembangan sikap peserta didik pada kompetensi dasar dari KI-1 dan KI-2 antara lain mensyukuri karunia Tuhan, jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain yang tercantum dalam silabus dan RPP.
c. Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup terdiri atas:
1) Kegiatan guru bersama peserta didik yaitu:
(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
(c) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
2) Kegiatan guru yaitu:
(a) melakukan penilaian;
(b) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; dan
(c) menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Daya Dukung Proses pembelajaran memerlukan daya dukung berupa ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran. Sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca juga, artikel yang berhubungan dengan Artikel Tahap pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013, antara lain : Langkah Penyusunan RPP Pembelajaran Kurikulum 2013 Tahap pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013…. Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2014/12/tahap-pelaksanaan-pembelajaran.html#_
www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Contact Us :
Gema Nurani
Share on Tumblr

Diary digital bundaku mengenai aku…. “Lumongga Anandita”

Terima Kasih Kepada Bunda Dita yang telah memposting sebuah artikel tentang pengalaman bunda dalam mencari Lembaga Pendidikan Terbaik untuk anandanya. Di bawah ini postingan testimoninya
….. Saat Dita sudah di semester ke-2 TKB, Ayah Bunda sudah mencari-cari sekolah SD untuk Dita. Ada 3 pilihan yang Bunda ingin bandingkan, yaitu SDIT Gema Nurani, SD Al Azhar Harapan Indah dan Global Insani Harapan Indah.

perbandingan-sd-dita-web..FotoNote. Penyebutan uang pangkal dan SPP tidak bermaksud apa-apa, selain untuk dokumentasi dan info buat yang membutuhkan.

Untuk SDIT Gema Nurani Bunda sudah sering mendatangi, karena kalau membayar sekolah Dita di BMT yang letaknya di SD Gema Nurani. Untuk Al-Azhar Harapan Indah, Bunda pernah menyambangi 2x, sedangkan untuk Global Insani Harapan Indah Bunda hanya beberapa kali lewat di depannya. Setelah membanding-bandingkan, akhirnya Ayah Bunda mantap untuk menyekolahkan Dita di SDIT Gema Nurani, International School dengan pertimbangan : Jarak dari rumah deket banget, Kubah mesjid di SD Gema Nurani aja kelihatan banget dari rumah :D. Jalan kaki paling 10 menit kurang lah. Kalau naik motor paling 3 menit. Kalau naik mobil kayaknya malah lebih lama, lha ribet parkirnya :D Sudah established Tidak hanya mengutamakan nilai akademik, tapi juga membangun akhlak anak didik. Bagi Bunda pribadi poin ini sangat penting. Untuk kelas P1-3, masuknya jam 06.50 – 14.00, P4-6 : 06.50 – 16.00. Setiap pagi selalu diawali dengan sholat dhuha bersama. Ini Bunda foto kubah Masjid Gema Nurani dari depan rumah :

jarak-sd-web

Trus kenapa international bukan reguler?. Soal ini dari sekolah ada perbandingannya, ntar Bunda tampilkan disini. Intinya beda di kurikulum, metoda pembelajaran, perbandingan guru:murid, penggunaan bahasa Inggris untuk mata pelajaran internasional (Matematika, Bahasa Inggis, IPA dll).
Untuk Ekstrakurikuler nya pun untuk kelas Inter ada berkuda dan memanah segala. Ya Bunda masukin Dita ke kelas Inter bukan untuk gaya-gayaan, namanya juga untuk anak, pasti penginnya yang terbaik. Ayah Bunda berdoa saja semoga Dita mampu mengikutinya dan enjoy selama proses belajar mengajar. Amin :-) Untuk masuk SDIT Gema Nurani ini anak tidak perlu tes calistung. Waktu TK pun Dita tidak digojlog untuk bisa calistung, guru hanya memberikan stimulasi nya. Alhamdulillah di semester 2 TKB, Dita sudah bisa membaca dan menulis cukup lancar dan bisa berhitung sederhana. Inilah yang bikin Bunda cocok dengan Gema Nurani, Dita happy banget sekolah di Gema Nurani. Nanti di SD pun, miss nya bilang tidak ada PR-PR yang membebani siswa. Bunda sendiri sudah mendaftarkan Dita di bulan November 2013. Karena yang mendaftar di bulan Oktober-November, jika TKnya dari TK Gema Nurani dapat potongan 2juta. Jika di Desember, potongannya 1,5 juta. Januari cuma 1 juta. Jadi karena sudah mantab di Gema Nurani, ya langsung daftar di sana. Lumayan banget lho diskonnya 2juta :-) Kemudian tes yang harus diikuti calon murid SDIT Gema Nurani hanyalah psikhotest. Ini sebagai dasar sekolah untuk mengembangkan anak didik. Tes ini dilakukan setelah mendaftar. Untuk masuk kelas International, hasil psikhotest harus minimal 110.

Alhamdulillah hasil test Dita nilainya masuk range. Namun jika toh sudah mendaftar ke International, hasil test di bawah 110, tidak masalah, namun orangtua harus mau bekerja sama dengan guru, untuk meningkatkan aspek yang kurang dari hasil psikhotest anak. Untuk tahun ajaran 2014-2015 ini, orangtua/wali murid SDIT Gema Nurani diundang untuk menghadiri Open House. Kami diterangkan segala macam hal mengenai semua hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah sampai setahun ke depan.Dita mendapat kelas 1B Inter dengan 2 guru yaitu miss Susi dan miss Pipit. Untuk kelas International sendiri ada 2 kelas @15 murid. Sedang kelas Reguler ada 3 kelas dengan kapasitas rata2 @26 murid. Murid TKB Gema Nurani Semi Natural School yang berjumlah 29 orang, yang mendaftar ke Inter 9 orang, sisanya ke Reguler. Yang tidak melanjutkan ke SDIT Gema Nurani, menurut info miss nya Dita di TK, sekitar 4-5 orang. Di kelas 1B Inter, Dita sekelas sama Rajwa, Ridhwan, Rafifa dan Raka, yang merupakan eks temannya di TKB Gema Nurani. Dan ternyata beberapa teman sekelas Dita di SD ini rumahnya cukup jauh dari sekolah, ada yang dari Bintang Metropole (deket Summarecon Mall Bekasi). Malah berdasarkan info dari Ketua Yayasannya pada open house kemarin, salah satu visi Gema Nurani adalah menjadi sekolah islam rujukan secara nasional. Dita sudah mulai masuk SD tanggal 7 juli 2014 kemarin. Wah…Dita excited banget. Minggu sebelumnya Dita sudah gak sabar ingin sekolah. Ayah Bundanya pun gak kalah excited. Melihat Dita memakai seragam SD nya pun sudah membuat Bunda terpesona. Ada kebahagiaan yang luar biasa, saat mengantarkan anak tercinta di hari pertama masuk SD. Ah anak Bunda sudah SD. Dulu saat pertama kali Dita masuk PG, Bunda juga excited. Sepertinya nanti setiap kali Dita memulai sekolah di jenjang yang baru, Bunda akan merasakan hal yang sama :-) Ini foto Dita minggu kemarin, karena hari Rabu libur karena ada pilpres, jadi seragam hari Rabu belum Bunda fotoin. Nanti yang hari Rabu menyusul deh. Happy schooling ya nak :-) Sumber : http://gn-mrktng.blogspot.com/search/label/Testimoni

anak in..anak in

Contact Us :  stiker 2

Share on Tumblr

Penyebab Anak Malas Belajar

Bagi sebagian anak, memakai seragam sekolah, belajar di sekolah, adalah kerinduan tersendiri. Kalau libur, ada kerinduan untuk segera masuk sekolah lagi. Namun, tak sedikit juga anak yang enggan bersekolah dan mencari seribu alasan untuk tidak pergi ke sekolah.
Yang rindu belajar dan yang enggan untuk belajar, tentu menjadi objek yang harus diteliti penyebabnya. Beragam alasan tentunya.
PSB Gema Nurani
PSB Gema Nurani

Bagi yang senang belajar/bersekolah, tentu banyak motif dan penyebabnya. Mungkin karena di sekolah banyak teman dan bisa bermain, atau kalau berangkat sekolah ia akan diberi uang jajan, beda dengan kalau ia tidak berangkat. Motif lainnya, karena memang kondisi sekolah dan proses pembelajarannya kondusif dan menyenangkan bagi anak.
nonton
Kondisi berbeda tentu menghasilkan sesuatu yang berbeda pula. Ketika anak enggan dan malas-malasan untuk belajar di sekolah, secara serius harus menjadi pemikiran para praktisi pendidikan, guru, dan orang tua. Sepanjang yang saya amati, ada beberapa penyebab enggannya anak untuk belajar di sekolah, antara lain :

1. Faktor motivasi
Orang tua kurang memberikan dorongan dan perhatian memadai terhadap anak. Ketika dengan girang sang anak memperlihatkan nilai hasil ulangannya yang bagus, orang tua acuh tak acuh. Kondisi ini jelas akan mengurangi semangat belajarnya, karena merasa usahanya tidak dihargai.

2. Merasa tidak nyaman
Ada beberapa kasus anak malas pergi ke sekolah disebabkan ia tidak merasa nyaman di sekolah. Faktor temannya yang memusuhi, menjaili, atau meledek dapat menjadikan si anak takut berada di sekolah. Ditambah kurang “care”nya guru, taraf perlindungan kepada anak didik minim.

3. Pembelajaran yang membosankan
Hal ini menjadi “PR” bagi guru untuk mengemas pembelajaran sedemikian rupa sehingga anak menjadi bersemangat untuk belajar. Metode yang monoton dan kepribadian guru yang acuh tak acuh dengan pendidikan muridnya, menjadi penyebab penurunan semangat belajar.

Bila anak didik enggan dan tidak bersemangat dalam belajar, tentu menjadi kewajiban orang tua dan guru untuk segera mengambil langkah dan solusinya. Bagaimanapun, apapun, baik dan buruknya pembelajaran oleh seorang guru, akan tetap membekas dalam memori anak didik sampai ia dewasa.

Gema Nurani

Share on Tumblr

Kasih Sayang Ayah Bunda

Pelukan Kepada Anak, Sudahkah dilakukan Hari Ini?  Berikan Yang Berarti Untuk Tumbuh Kembang Anak

Ayah Bunda
Gallery Gema Nurani
Memeluk anak hendaknya senantiasa dirutinkan, karena dalam pelukan ini banyak sekali manfaat yang didapatkan.  Manfaat pelukan ini akan sangat membantu sang anak untuk tumbuh kembangnya kelak dan yang paling penting dengan pelukan orang tua terhadap anak akan membuat sisi mentalitas anak menjadi lebih bagus bila dibandingkan dengan anak yang jarang sekali mendapatkan pelukan dari orang tuanya.
Seorang Psikolog yang bernama Melly Puspita Sari dalam bukunya yang berjudul “The Miracle of Hug” menjelaskan dan merinci tentang manfaat pelukan yang diberikan ayah dan ibu.  Pelukan ayah dan pelukan ibu akan memiliki efek dan dampak yang berbeda sehingga apabila kedua pelukan ini bisa dikombinasikan dengan tepat maka anak akan tumbuh menjadi anak yang berprestasi.
Manfaat pelukan dari ayah sekaligus seorang figur dalam keluarga akan memberikan efek anak menjadi anak yang mandiri dan berani.  Hal ini akan bisa berdampak jika sang ayah rajin dalam memberikan pelukan kepada putra-pitrinya.  Jika ayah rutin memeluk anak maka anak akan lebih berani, mandiri, kuat dalam berinteraksi sosial dalam kehidupan bermasyarakatnya.
Maka tak heran jika ternyata anak perempuan yang dekat dengan ayah/bapaknya akan lebih memilih pasangan hidup yang sesuai dengan pribadi ayahnya.  Sang anak akan berusaha mencari jodohnya yang berkesesuaian dengan pribadi bapaknya.
Sedangkan manfaat pelukan ibu kepada anak akan melatih anak untuk lebih berempati dan nilai-nilai kasih sayang. Hal ini bisa terjadi dikarenakan sifat dan karakter bunda yang lebih afeksi.  Misalnya ketika anak sedang sakit,  maka sang bunda akan lebih memeluk anak dan mencarikan anak obat.  Hal inilah yang nantinya akan membuat anak lebih bersikap simpati dan berempati terhadap lingkungan sosialnya.
Menurut Edward R. Christopherson seorang psikolog klinis dari Children’s Mercy Hospital and Clinics di Kansas City mengatakan bahwa manfaat pelukan kepada anak akan lebih efektif daripada ucapan sayang kepada anak ataupun pemberian pujian kepada anak.
Sebagai contoh misalnya ketika anak menulis dan mencoret tembok di dalam dinding rumah.  Pertama yang harus dilakukan orang tua adalah berkomunikasi dengan anak, tanyakan alasan anak mengapa ia mencoret-coret tembok.  Sebaiknya berbicara kepada anak dengan nada yang lembut.  Untuk langkah selanjutnya adalah memberikan ketegasan kepada anak untuk tidak kembali menulis di dinding rumah.  Berilah pelukan kepada anak, sebelum anak kita beri media untuk menulis ataupun mencoret-coret.  Hal ini akan lebih baik daripada tidak memberikan pelukan sama sekali kepada anak.
Berdasarkan data dan riset dari University of Italy menyebutkan bahwa ternyata pelukan yang dilakukan orang tua kepada anaknya akan lebih ampuh dalam mengobati depresi dan anak akan lebih siap dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.  Selain itu manfaat pelukan ketika masa Inisiasi Dini saat anak lahir akan memberikan efek anak lebih kuat dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik.
Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Journal of Epidemiologi and Community Health menyebutkan bahwa ketika pelukan orang tua dilanjutkan hingga masa kanak-kanak anak-anak  maka sang anak akan memiliki jiwa yang tidak akan mudah stress.  Selain itu pelukan juga sangat efektif dalam meluluhkan hati yang keras.
Pelukan yang terlihat sepele ternyata memiliki manfaat yang sangat luar biasa.  Pelukan kepada anak harus senantiasa dilakukan agar terjalin rasa kasih sayang di dalam keluarga.  Pelukan bisa dilakukan ketika anak mau berangkat sekolah ataupun ketika kita pulang kerja.  Gunakan momen-momen yang sedikit untuk memeluk anak-anak ditengah-tengah aktifitas kita yang padat dan sibuk.
Sumber: http://www.al-maghribicendekia.com/2015/02/pelukan-kepada-anak-sudahkah-dilakukan.html
stiker 2
Share on Tumblr

Penentu Tumbuh Kembang dan Kecerdasan Anak

Setiap orang tua pasti menginginkan dan berharap buah hatinya bisa tumbuh kembang dengan baik yang diiringi dengan perkembangan kecerdasan yang menonjol. Tumbuh kembang anak dan tingkat kecerdasan anak setidaknya dipengaruhi 3 hal, yaitu faktor genetik anak, faktor gizi dan faktor lingkungan.
Out Bond
Ketiga faktor ini sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kecerdasan anak. Setidaknya 40 hingga 50 % dipengaruhi oleh faktor genetik anak. Sedangkan untuk faktor gizi pengaruhnya sekitar 30 hingga 40% dan selebihnya yaitu sekitar 10 hingga 20 % disumbang oleh faktor lingkungan.
Dalam mendidik anak agar bisa tumbuh secara aktif dan cerdas, para orang tua harus memperhatikan 3 hal yaitu pemberian stimulasi yang benar, penerapan disiplin dalam keluarga secara tegas yang berlandaskan kasih sayang dan yang terakhir yaitu pemberian contoh yang baik di dalam keluarga.
Sedangkan untuk perkembangan kecerdasan anak tergantung dari otak yang dimiliki anak. Jumlah sel dan jumlah serabut yang terkandung dalam otak sangat mempengaruhi tingkat kecerdasan.  Selain itu komposisi reseptor dan neurotransmitter juga sangat berperan. Oleh karena itu konsumsi makanan yang mengandung  DHA dan konsumsi AA sangat dianjurkan.
Untuk faktor lingkungan juga bisa membentuk tingkat kecerdasan anak.  Ada dua hal yang mempengaruhi yaitu pada saat kehamilan dan pasca lahiran.  Pada masa kehamilan yang sangat berperan yaitu gizi yang dikonsumsi ibu hamil, infeksi, stress dan terakhir yaitu hormon.  Untuk fase setelah melahirkan yaitu gizi yang dikonsumsi anak, infeksi kronis, lingkungan sekitar anak, psikososial serta hormon.
Slogan Asah, Asuh dan Asih merupakan kebutuhan yang sangat penting sebagai peran dasar dalam masa tumbuh kembang anak.  Anak-anak dalam fase tumbuh kembang memerlukan kebutuhan fisik biomedis (periode asuh),contohnya adalah kebutuhan makanan, sandang, papan, perawatan kesehatan dan lain-lain.
Pemberian rasa kasih sayang yang mempengaruhi emosi (periode asih), contohnya adalah pemberian kasih sayang dari orang tua, penghargaan akan prestasi dan lain sebagainya dan yang terakhir yaitu pemberian stimulasi kecerdasan/otak (periode asah), contohnya adalah pengaruh anak dimarahi, permainan dan lain sebagainya.
Sebelum memaksimalkan tumbuh kembang anak dan kecerdasan anak maka para orang tua harus memahami dengan baik faktor-faktor tersebut.  Hindari memberikan kekerasan kepada anak, sikap meremehkan anak dan berbagai sikap negatif lainnya.  Jadilah teladan yang baik agar anak bisa mengikuti tanpa melihat adanya kontrakdiksi antara perintah dengan realitas yang dilakukan orang tua. Sumber : http://www.al-maghribicendekia.com/2015/02/penentu-tumbuh-kembang-dan-kecerdasan.html
 psb.gemanurani.net/
stiker 2
Share on Tumblr

Praktek Menyumbang 60 Persen Memori Anak

PSB Gema Nurani
PSB Gema Nurani

Jakarta, Psikologi Zone – Metode pengajaran untuk anak usia 1-6 tahun tidak cukup bila hanya melalui kata-kata, praktek langsung adalah salah cara yang efektif. Anak akan lebih cepat memahami bila mereka diberikan kesempatan untuk melakukan sendiri, sebab 60 persen ingatan anak berasal dari apa yang sudah ia lakukan.

Psikolog pendidikan anak usia dini, Novita Tandry, M.Psi mengatakan, memori anak dipengaruhi dari apa yang telah mereka lakukan, lihat dan dengar. Setiap porsi tersebut memiliki bobot sendiri dalam proses mengingat, paling besar adalah dari perbuatan sekitar 60 persen, sedangkan melihat 40 persen, dan mendengar hanya 30 persen.

“Yang paling bagus tentunya kalau ketiganya digabungkan. Melihat, mendengar sekaligus melakukannya sendiri akan membentuk 90 persen ingatan anak,” kata Novita dalam peresmian SGM Prestasi Center, Cilandak, Selasa (1/5).

Perlu bagi orang tua ataupun tenaga pendidikan usia dini untuk aktif memberikan stimulasi fisik agar perkembangan motorik kasar dan halus ikut berkembang. Melalui kegiatan aktif, anak tidak menjadi kutu buku yang hanya bisa melihat dan mendengar, namun juga mengaplikasikan.

Hal ini akan menjadi lebih efektif karena anak biasanya suka sekali bila diajak bermain. Mengenalkan aktivitas fisik sedini mungkin tidak hanya bermanfaat secara psikologis, namun juga kemampuan fisik dan juga keterbiasaan olahraga.

Stimulasi fisik tidak hanya terbatas pada aktivitas fisik saja, namun juga termasuk sentuhan fisik. Saat anak masih bayi, pijatan – pijatan lembut termasuk stimulasi fisik dan bermanfaat bagi perkembangan mental anak saat dewasa kelak.

“Kalau ada orang dewasa yang tidak romatis, tidak pernah memberi bunga pada pasangannya itu pasti waktu kecil kurang mendapat sentuhan. Makin sering diajak bersentuhan, anak-anak akan membentuk empati saat tumbuh dewasa,” kata lulusan University of New South Wales Australia ini.

http://www.psikologizone.com/praktek-menyumbang-60-persen-memori-anak/065116469

stiker 2

Share on Tumblr

6 Cara Mendidik Anak Istimewa

PSB Gema Nurani
PSB Gema Nurani

Anak merupakan kekayaan keluarga yang sangat istimewa.  Oleh karena itu agar anak menjadi yang istimewa maka diperlukan pengasuhan dan pendidikan yang istimewa pula. Keistimewaan yang sudah ada pada diri anak harus digali dan dikembangkan agar keistimewaan anak bisa bermanfaat untuk keluarga dan lingkungan sekitar.

Untuk mewujudkan anak agar menjadi anak istimewa, berikut tips dan cara yang bisa diterapkan dalam keluarga
1. Menggali potensi yang ada pada anak
Kedekatan dengan anak merupakan kunci untuk mencari sisi istimewa dari anak.  Beberapa cara yang bisa digunakan untuk menggali potensi anak adalah dengan mengenal lebih dekat dengan anak.  Hal yang perlu diperhatikan tentang anak adalah apa yang disukai anak.  Berikutnya adalah keterampilan yang disuka anak dan minat yang paling digandrungi anak.  Selain itu cara berpikir anak ketika menghadapi masalah juga merupakan cara untuk menemukan sisi istimewa dari anak.
Setelah memahami sisi istimewa anak maka langkah selanjutnya adalah memaksimalkan kelebihan yang dimiliki anak tersebut.  Caranya adalah dengan memberikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak.
2. Memberikan pujian kepada anak
Dalam memberikan pujian kepada anak hendaknya dilakukan secara ikhlas dan jujur. Berilah tatapan dengan penuh kasih sayang dan sampaikan pujian yang ingin disampaikan. Pujian dengan diiringi pelukan kepada anak juga sangat dianjurkan. Memberikan pujian yang kurang tepat yaitu apabila lisan mengucapkan pujian kepada anak, namun tatapan mata tidak fokus kepada anak.  Jadi seolah-olah hanya sebatas dilisan saja dan hanya sekedar menyenangkan hati anak.
3. Berkomunikasi dengan anak
Berkomunikasi dengan anak bisa dilakukan dengan mengajak anak berbicara bersama dan bertukar pikiran.  Agar komunikasi bisa berjalan dengan baik maka sebaiknya membicarakan tentang sesuatu yang diminati anak.  Ketika anak menemukan permasalahan maka disitulah peran orang tua untuk membantu mencarikan solusi.  Hal ini akan membantu cara berpikir anak tentang bagaimana menyelesaikan sesuatu permasalahan.
4. Menghargai pilihan anak
Tak ada salahnya untuk menghormati keputusan anak tentang sesuatu yang diminatinya selama hal tersebut masih dalam rambu-rambu yang benar.  Peran orang tua adalah mengawasinya dan berilah kesempatan pada anak untuk belajar tentang pilihannya.
5. Meluangkan waktu untuk anak
Perhatian kepada anak yang paling baik adalah dengan menemani anak.  Selain membangun kedekatan dengan anak, hal ini juga akan memberikan kesempatan pada anak untuk belajar dari sosok orang tuanya.  Dengan hal ini diharapkan anak akan bisa menemukan sisi-sisi istimewa yang ada pada diri anak.  Dengan kebersamaan maka kita akan bisa tertawa, berbagi cerita dan tentunya anak akan merasa bahwa kita akan selalu ada untuk anak.
6. Memberikan sugesti positif pada anak
Ada kalanya memanjakan anak sesekali bisa dilakukan.  Misalnya adalah dengan memberikan perlakuan istimewa pada anak.  Hal ini adalah wajar dikarenakan cara berpikir anak yang masih sangat sederhana.  Hal yang bisa kita lakukan misalnya memberikan panggilan istimewa kepada anak. “Jagoanku”, “Sweety”, “Cantik” dan lain sebagainya. Ungkapan yang bisa kita berikan pada anak, misalnya “Papah sayang sama jagoan tampan ini!” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang bersifat menghargai prestasi anak.  Hal-hal seperti ini akan membuat anak merasa istimewa dan memang benar-benar terucap dari lisan orang tua yang jujur dan tulus.
Agar anak tumbuh dan berkembang secara istimewa maka kita juga harus bisa memperlakukan anak secara istimewa. Istimewa bukan identik dengan sesuatu yang bersifat glamour dan berlimpahkan harta, namun istimewa adalah memberikan pola pengasuhan dan pendidikan yang benar sesuai dengan tahapan usia anak.
Share on Tumblr

Surat Edaran Kemendikbud

surat edaranBerdasarkan Surat Edaran Bersama Mendikbud dan Menristekdikti Nomor 0123/MPK.H/KR/2015 dan Nomor 8/M/KB/II/2015 tanggal 17 Februari 2015 disepakati hal-hal berikut:

1. Hasil UN SMA/Sederajat digunakan sebagai pertimbangan dalam SNMPTN
2. Ketentuan mengenai penggunaan nilai UN SMA/Sederajat dalam SNMPTN ditentukan oleh Panitian SNMPTN dan PTN
3. Puspendik menyerahkan pengolahan hasil UN kepada panitia SNMPTN paling lambat 2 Mei 2015.

Pin It
Share on Tumblr

Cara Mendidik Anak yang Baik Sesuai Usia

PSB Gema Nurani
PSB Gema Nurani

Mendidik anak merupakan tanggung jawab orang tua yang harus diemban dengan baik.  Anak-anak adalah ibarat seperti selembar kertas putih dan orang tua nyalah yang nantinya akan memberikan warna.  Maksudnya adalah baik atau jeleknya tingkah laku anak merupakan hasil dari orang tuanya dalam mendidik anak-anak mereka.  Oleh karena itu mendidik anak tidak boleh dianggap enteng dan remeh.  Karena pendidikan yang diberikan akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dirinya.

Tiap orangtua akan memiliki gaya dan pola mendidik yang berbeda-beda, sesuai dengan karakter yang dimiliki oleh para orang tua tersebut.  Setiap orangtua akan merasa bahwa dirinya sudah memberikan dan mendidik dengan benar sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimilkinya.

Karena mendidik anak bukanlah perkara yang mudah, tak jarang para orang tua akhirnya mendidik anaknya melalui jalur sekolah atau pondok pesantren.  Ketika anak dididik di sekolah atau di pondok pesantren belum tentu anak akan menjadi anak yang sesuai dengan harapan orangtua, minimal menjadi anak yang baik.  Ketika anak tidak tumbuh sesuai dengan harapan bukan berarti pihak guru atau pun pihak sekolah/pesantren dijadikan kambing hitam karena telah gagal dalam mendidik anak atau murid.

Para guru juga hanyalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan.  Termasuk dalam mendidik anak.  Semua dari anak didiknya juga belum tentu semuanya akan menjadi anak-anak yang berhasil, ada yang berhasil dan adapula yang tidak berhasil.

Lalu bagaimanakah cara mendidik anak yang benar?  Apakah ada cara yang efektif dalam mendidik anak?  Secara garis besar teladan yang terbaik yang bisa kita jadikan rujukan dalam mendidik anak yang benar adalah sesuai dengan cara Rasulullah dalam mendidik anak.

Berikut ini adalah tahapan cara mendidik anak ala Rasulullah

1.  Mendidik anak usia 0 hingga 6 tahun

Anak usia 0-6 tahun merupakan usia emas atau Golden Age.  Anak pada usia ini akan mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat.  Percepatan tumbuh kembang ini bisa dirangsang dengan mainan.  Mainan akan sangat membantu agar anak menjadi anak yang cerdas.

Sedangkan Rasulullah sendiri menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berlemah lembut terhadap anak kita yang masih berusia dari 0 hingga 6 tahun.  Memanjakan, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik dan membangun kedekatan dengan anak merupakan pola mendidik yang baik.  Jadikan anak merasa aman, merasa dilindungi dan nyaman bersama orangtua.  Ketika anak nakal maka janganlah membiasakan untuk dipukul supaya anak mau menurut.  Memukul ataupun memarahi anak pada usia ini bukanlah cara yang tepat.  Berikanlah kesempatan pada anak agar merasakan kebahagiaan yang berkualitas dimasa kecil.

2.  Mendidik anak usia 7 hingga 14 tahun

Perkenalkanlah anak dengan tanggung jawab dan kedisiplinan pada usia ini.  Kita bisa melatihnya mulai dari memisahkan tempat tidurnya dan mendirikan shalat 5 waktu.  Pukullah anak ketika anak tidak mau mendirikan shalat.  Tapi bukan pukulan yang menyakitkan atau pukulan di kepalanya.  Atau kita bisa membuat sanksi-sanksi ketika anak melanggar, namun sanksi yang diberikan usahakan sesuai dengan kesepakatan antara anak dan orangtua.

“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”     (HR. Abu Dawud)

3.  Mendidik anak usia 15 hingga 21 tahun

Anak pada usia ini adalah usia dimana anak akan cenderung memberontak.  Namanya juga dunia remaja.  Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan yang baik kepada anak.  Fungsinya adalah agar kita bisa meluruskan anak ketika anak berbuat kesalahan, karena kita dekat dengan anak.  Timbulkan rasa nyaman pada anak bahwa kita orangtua namun bisa bersikap seperti sahabat setia.  Sahabat setia yang siap mendengar segala cerita dan curahan hati anak.

Masa ini adalah masa pubertas untuk anak-anak.  Jangan sampai ketika anak-anak punya masalah namun mereka cari solusi dan cari curhat ke tempat orang lain.  Didiklah anak dengan membangun persahabatan meskipun kita adalah orangtuanya, agar anak tidak merasa bahwa kita adalah orang ketiga yang tidak boleh tahu tentang permasalahan dirinya.

Para orangtua juga dilarang untuk memarahi dan menghardik anak di hadapan adik-adiknya ataupun di depan kakak-kakaknya.  Maksudnya supaya harga dirinya tidak jatuh sehingga anak tidak merasa rendah diri. Jalinlah pendekatan yang baik kepada anak.

4.  Mendidik anak usia 21 tahun keatas

Mendidik anak usia ini adalah dengan memberikan kepercayaan dan memberikan kebebasan.  Kebebasan bukan berarti anak akan berbuat sebebas-bebasnya, namun biarkan anak bertindak dengan alasan yang jelas dan masuk akal serta tidak menyalahi aturan.

Kita sebagai orangtua hanya sekedar memantau dan memberikan pengarahan ketika anak merasa ada kesulitan.  Bukan denga cara mendikte karena nantinya anak tidak akan bisa mandiri.  Biarkan anak untuk berlatih membuat keputusan dan melaksanakannya, kita sebagai orangtua adalah dengan mendoakannya.

Anak berhasil ataupun anak tidak berhasil adalah pilihan.  Dan yang sangat berperan adalah para orangtua terutama pola asuh dan cara mendidik anak tersebut.  Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang sukses, oleh karena itu berikanlah dan didiklah anak dengan cara yang benar.  Karena anak adalah aset berharga yang bisa mendoakan dan memberikan manfaat untuk orangtuanya terlebih ketika orangtua sudah meninggal yaitu doa anak shaleh. Bisa baca Nasihat Nabi Luqman kepada anaknya.

Sumber : http://www.al-maghribicendekia.com/2013/01/cara-mendidik-anak-yang-baik-sesuai-usia.html

Share on Tumblr

Tingkatkan Peran Orang Tua Melalui Pendidikan Keayahbundaan

Jakarta, Kemendikbud — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menganggap perlu diadakannya pendidikan untuk orang tua. “Memang jika sudah menikah, berarti sudah siap menjadi pasangan suami istri. Tapi menjadi orang tua yang mendidik, itu adalah dunia yang berbeda,” katanya di depan ratusan siswa dan alumni sekolah Santa Ursula Jakarta akhir Januari lalu.Ayah Bunda

Mendikbud Anies mengatakan bahwa selama ini para orang tua– pada umumnya– hanya mengajari anak soal kesehatan dan lain sebagainya, tapi untuk pembentukan karakter dan budinya belum tentu. Dan itu bisa dari hal-hal terkecil. Pada kenyataannya, orang tua lebih sering mengesampingkan itu.

“Contohnya, ketika ingin pergi ke acara pernikahan. Anak-anak yang berusia 3-4 tahun biasanya nangis minta ikut. Tapi orang tua lebih sering menyuruh pengasuhnya untuk menyelimuti dan memainkan film kartun,” katanya. “Setelah itu, maka orang tuanya pergi tanpa pamit.” tambahnya.

Anies mengatakan bahwa sebaiknya orang tua tidak berperilaku demikian. “Bapak dan Ibu membiasakan anaknya untuk tegas. Kalau bilang iya, iya. Kalau bilang tidak, tidak,” kata Mendikbud Anies.

Ia juga menambahkan bahwa ini berpengaruh terhadap anak itu sendiri, dan anak akan terbiasa memegang prinsip. Nilai-nilai seperti inilah yang harus diajarkan orang tua sejak dini.

Orang tua adalah pendidik terpenting, kata Mendikbud, tapi justru yang paling tak tersiapkan. Pendidikan sebagai orang tua ini tidak tersentuh. Untuk itu akan ada direktorat baru yang menangani program keayahbundaan.

Program keorangtuaan yang ada selama ini belum menjangkau sasaran akhir yaitu meningkatkan peran orang tua dalam mencapai hasil belajar anak yang optimal. “Oleh karena itu perhatian serius terhadap peran orang tua perlu dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan keayahbundaan,” ucap Sekretaris Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal (PAUDNI) Ella Yulaelawati saat ditemui di kantornya, Jumat (30/01/2015).

Ella mengatakan, melalui pendidikan keayahbundaan akan diupayakan memberikan wawasan, pemahaman, dan keterampilan tentang kiat mendidik anak sejak dalam kandungan sampai dengan dewasa. Pendidikan yang akan diberikan adalah dalam hal memelihara cinta dan kasih sayang kepada anak, pendidikan karakter, gizi dan kesehatan, menyiapkan prakeaksaraan, memenuhi hak dan perlindungan anak.

“Selain hal tersebut, fokus pendidikan keayahbundaan adalah mencegah perilaku destruktif dan meningkatkan kualitas hasil belajar anak melalui pendampingan yang menyeluruh,” kata Ella.

Dengan adanya pendidikan keayahbundaan diharapkan dapat menyajikan standar menjadi orang tua yang bermartabat . Standar tersebut diharapkan dapat disusun oleh orang tua, diakses, dan dinilai oleh, untuk dan dari para ayah bunda itu sendiri. “Dengan begitu dapat meningkatkan kapasitas ayahbunda dalam peningkatan kualitas pembelajaran yang bermakna untuk anak,” pungkas Ella. Sumber https://www.facebook.com/Kemdikbud.RI/posts/688866917889418

Share on Tumblr

Penerimaan Siswa Baru 2015-2016

Share on Tumblr